RSS Feed

Identitas negara

Posted on

Identitas Budaya Indonesia yang Mulai Luntur

Pengantar

Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan sumber daya alam dan sumber daya budaya yang melimpah. Bangsa ini merupakan bangsa yang serba multi, baik itu multi-insuler, multibudaya, multibahasa, maupun multiagama. Semua itu bila dikelola dengan baik dapat dijadikan sebagai potensi untuk memakmurkan rakyat dan memajukan bangsa kita.

Saat ini,  globalisasi telah datang dan sedang menggerogoti segala dimensi kehidupan manusia. Kualitas pengaruh yang ditimbulkan arus globalisasi, ini disebut-sebut sebagai badai perusak nilai budaya manusia.

Manusia perlahan-lahan mengalami kehilangan identitas budaya. Tidak akan ada lagi pengidentifikasian diri dengan suku, etnis maupun seni tertentu, bahkan sistem nilai tradisional yang telah mengakar dalam setiap pribadi.

Globalisasi, sebagai faktor penyebab krisis identitas budaya, sebetulnya merupakan pendapat penulis dalam menanggapi banyak tulisan berita-berita yang  beredar di media yang umumnya mengkhawatirkan bertahannya budaya Indonesia di tengah arus globalisasi saat ini.

Pembahasan

Kemajuan dalam hal komunikasi dan transportasi sangat mempengaruhi dinamika kehidupan masyarakat global. Ditemukannya produk-produk sarana komunikasi dan transportasi kian memudahkan dan mempercepat lalu-lintas komunikasi dan interaksi antar individu maupun kelompok dalam masyarakat. Globalisasi terutama berkaitan dengan tranformasi ruang dan waktu.  (Anthony Giddens, 2011)

Sarana yang paling akhir ini adalah internet sungguh mengakibatkan tak terbatasnya ruang dan waktu. Orang Indonesia bisa berkomunikasi dengan Orang Amerika tanpa harus pergi ke Amerika. Lebih lagi, komunikasi ini bersifat cepat dan murah.

Tidak diperhitungkannya lagi batas daerah atau wilayah dalam dunia komunikasi dan transportasi. Kini setiap orang dari wilayah manapun mereka berdomisili, begitu leluasa berinteraksi dengan orang-orang yang tersebar luas di planet bumi ini, tak peduli lagi soal jarak antar wilayah yang jauh.

Dengan biaya yang serba murah dan melalui proses yang cepat, suatu interaksi antar individu bisa dilakukan secara intensif. Siapapun bisa berkenalan dan berkomunikasi dengan orang-orang yang tidak dikenal sebelumnya, bahkan yang berbeda suku, bahasa dan negara sekalipun. Sungguh luar biasa bila membayangkan lalu-lintas komunikasi yang terjadi setiap hari apalagi isi dialog yang bisa sedemikian variatif dan luas pengaruhnya bagi pembentukan identitas pribadi.

Pertukaran informasi dan pengetahuan ,ketika setiap orang bisa memperoleh pengetahuan tentang individu, masyarakat, negara berikut karakter seni dan budaya dari daerah lain tanpa harus pergi dan hidup secara langsung ke wilayah tersebut. Sungguh sebuah kemajuan yang luar biasa. Dalam hal ini, internet misalnya menjadi media penting di mana orang bisa mengeksplorasi pengetahuan secara bebas, setiap orang bisa tahu banyak hal tanpa perlu perjumpaan langsung dengan obyek informasi dan pengetahuannya itu.

Krisis identitas budaya sering diidentifikasikan dengan gambaran banyak kaum muda masa kini yang tidak tahu lagi bagaimana membawakan tarian daerah. Jangankan membawakan, menonton pentas seni tradisional saja mereka tidak berminat. Di pihak lain, makin banyak orang asing yang malah lebih mencintai dan menguasai seni tradisional ketimbang masyarakat asli. Gambaran lain, Orang-orang zaman sekarang sudah tidak tahu lagi bagaimana beradat dan bersopan santun. Mereka makin individualistis, kurang bersolider dan bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnnya. Pertanyaan yang muncul, apakah fakta-fakta seperti itu cukup menjadi bukti tegas telah terjadinya krisis identitas budaya?

Konsep tentang kebudayaan sangat mempengaruhi pendapat tentang apa yang dimaksudkan dengan identitas budaya. Sama seperti kata “kebudayaan”, “identitas budaya” pun seringkali dipahami secara sempit dan dangkal. Umumnya kebudayaan dipahami secara sederhana sebagai seni dan dengan begitu ketika mendefinisikan budaya, orang langsung menganggap ke bentuk-bentuk seni semisal tarian, adat-istiadat, upacara tradisional, patung, pahatan, lukisan dan produk material lainnya. Kebudayaan secara filososfis tentu memaksudkan hal-hal yang lebih mendasar sifatnya, lebih pada aspek-aspek nonmaterial yang mencakup segala upaya penciptaan, penertiban, pengelolaan nilai-nilai dan bahan material di sekitarnya serta internalisasi terus-menerus segala pandangan hidup yang baik bagi kehidupannya dan kelompok masyarakatnya. Mengetahui dan menetapkan identitas budaya tidak sekadar menentukan karakteristik fisik-biologis semata-mata, tetapi mengkaji kebudayaan manusia melalui tatanan berpikir, berperasaan dan bertindak sesuai dengan keyakinan budayanyanya masing-masing.

Jadi identitas budaya setiap pribadi jauh melampaui produk-produk seni tradisional dan lebih terarah pada sistem nilai dan keyakinan yang secara menyeluruh mempengaruhi kepribadian dan cara hidup seseorang

Sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya, identitas budaya secara hakiki lebih berupa sistem nilai, keyakinan kultural, usaha dan pandangan hidup yang mempengaruhi individu secara menyeluruh.

Penutup

Tatanan sosial pasca-tradisional sebagai bentuk kehidupan-kultural alternatif di era globalisasi ini. Tatanan ini tidak merupakan kondisi di mana tradisi kultural menghilang sama sekali, tetapi terutama merupakan pandangan baru di dalam hidup berbudaya bahwa budaya mesti senantiasa terbuka pada penelitian atau wacana. Dimensi keterbukaan budaya inilah yang mestinya menjadi karakteristik manusia kultural masa kini. Keterbukaan mengimpilikasikan terciptanya ruang untuk berdialog, saling membagi dan memperkaya di antara individu, kelompok bahkan bangsa yang berbeda budaya. (Anthony Giddens, 2011)

Intensifikasi komunikasi dan pertukaran ilmu pengetahuan seharusnya disikapi secara positif sebagai keadaani bahwa setiap individu dan kelompok dapat mengkomunikasikan dimensi budayanya masing-masing, sambil terbuka pada perubahan aspek-aspek yang dirasa penting bagi pertumbuhan diri. Sebab, bukankah kebudayaan juga merupakan proses yang alami?

Namun, sangat diperlukannya globalisasi dalam penguasaan iptek yang berguna bagi kemajuan bangsa pada umumnya lantas dapat melupakan kebudayaan dan identitas bangsa sendiri? Negeri ini harus bangkit menjaga dan mengeksplorasi budaya. Dengan merawat, menjaga dan melestarikan kekayaan budaya bangsa yang melimpah. Hal ini untuk membentengi gelombang krisis identitas bangsa yang parah, akibat hilangnya semangat percaya diri bangsa. Semangat percaya diri pada penggunaan budaya bangsa yang akan menimbulkan penyesalan yang luar biasa seperti ketika diakuinya suatu warisan budaya bangsa oleh bangsa lain.

Daftar Pustaka

Anthony Giddens, 2011 http://lalleletta.blogspot.com/2009/12/deteritorialisasi-dan-krisis-identitas.html http://paradigmaonline.wordpress.com/paradigma-edisi-13/artikel-utama/6Oktober 2011 19:16

 

 

About thisnia

this is me

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: