RSS Feed

Me and Skinhead, friends? can i become a skinhead?

Posted on

diambil dari : http://www.myspace.com/chuckhey/blog/342029523

Current mood:bitchy

Skinhead, Sesuatu hal yang ingin saya jalani sejak lumayan lama sebelum ini.Karena mungkin kini saya sudah mulai memiliki pekerjaan tetap di sebuah studio foto di kota Denpasar.Studio milik sahabat saya,yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi partnernya dalam bekerja.Meski saya harus meninggalkan kota asal saya Bandung, namun ini jalan yang harus saya tempuh sebagai pilihan dalam hidup saya, saya harus meninggalkan kuliah untuk sementara,meninggalkan keluarga,meninggalkan sahabat-sahabat saya,bahkan harus meninggalkan band saya (sorry dudes! I never mean to let you down! But promise me, you will always exist and beats the bastard!!!! With a God’s sake!).

 

Keinginan saya menjadi seorang skinhead terlintas sudah cukup lama, namun saat itu saya belum yakin bahwa saya cocok menjadi seorang skinhead, karena mungkin saya belum mempunyai pekerjaan tetap, hanya sebagai anak yang masih tergantung pada orang tua (hahha, mom! I’ll back and be the real man!).Dapet pekerjaan ga tentu, hahah.

Skinhead! Terlintas dalam fikiran saya, bahwa penampilan mereka yang menarik perhatian saya, mereka terlihat keren dengan boots,kepala plontos,terlihat gagah namun rapi (oke banget dah pokonya! Hahah). Namun saat itu saya masih belum paham dengan apa itu skinhead.

Saya teringat pada saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, ketika saya,mamah saya,dan kakak saya pergi ke tukang cukur rambut.Kakak saya duduk duluan di kursi eksekusi rambut, dan sang pencukur bertanya, “mau gaya apa?” sambil melihat ke sebuah gambar contoh-contoh potongan rambut yang sedang IN bertuliskan Top Collection.Kakak saya entah berbicara apa pada pencukur rambut, dan hasilnya setelah beberapa saat, rambut kakak saya terlihat aneh, saya bertanya sambil sedikit tertawa, dia hanya menjawab ” ini di cepak dalem, biar bisa di punk-ngin rambutnya!” mamah saya terlihat aneh ketika melihat rambutnya dan terjadi sedikit perdebatan antara mamah saya dan kakak saya, namun tak berangsur lama. Akhirnya bagian saya duduk di kursi cukur.Kakak saya memberi saran aneh: ” Udah ga musim belah tengah mah! Udah di botakin aja biar kaya skinhead!” .Terpikir oleh saya, apa itu skinhead, namun tak peduli saya pun setuju dengan saran aneh kakak saya, dan saya gundul 0,5 cm. Gaya rambut yang baru buat saya setelah sebelum mempunyai rambut BT (belah tengah).

Teman-teman saya terlihat aneh karena mungkin melihat penampilan baru saya (hahah mungkin mereka melihat tuyul karena saat saya sd ukuran tubuh saya kecil imut2, heheh)

Suatu saat, ketika saya berada di toilet sekolah, ada seorang memperhatikan saya sambil menepuk bahu temannya dan berkata. ” Hayu cepetan! Ada skinhead!” dan dia lekas-lekas pergi meninggalkan toilet. Saya terheran heran, namun tak begitu peduli. ( mungkin si bocah takut saya gebukin karena matanya agak sipit seperti orang jepang, emang saya Nazi’s Skinhead! Hahahha!).Lucunya ternyata seorang yang telah menyebut saya skinhead (sebenernya pada saat itu saya ga begitu peduli apa itu skinhead, ngerti juga engga).anehnyadia menjadi teman saya di SMP dan kita bercerita tentang kejadian tersebut, lucu bila diingat. G E R A L D namanya sama seperti yang tercantum di bet nama seragamnya, dengan spasi di tiap huruf tanpa kepanjangan. (hahah babehnya stuck ngasih nama ketika ia lahir, Where are u now, Bro! Mari kita anggur putih! Hahaha)

Saat itulah yang memperkenalkan saya dengan istilah baru “SKINHEAD” tanpa pernah tahu apa maksudnya. Hingga akhirnya pada saat SMP, kakak saya pulang membawa VCD dengan judul Geng Boys. Sebuah film yang menceritakan bagaimana kehidupan gerombolan skinhead.Saya mulai paham pada istilah “SKINHEAD” bahwa mereka berkepala botak,berpenampilan seperti security,melakukan tindak rasisme,memiliki tato lambang NAZI. Hal itu cukup mengagetkan saya, ternyata mereka seperti penjahat saja, memperkosa wanita yang sedang asik berpacaran dan memukuli prianya. ( Oh Tuhan.. sebuah penganiayaan yang tragis).saya mulai “sedikit” paham apa itu “SKINHEAD”.

then i play a music

Sex Pistols,The Exploited,The Business,Bad Religion,The Ramones dll. Adalah beberapa kaset yang ada di kamar kakak saya. Karena saat itu (Saat saya masih SD) Kakak saya sering mengikrarkan bahwa dirinya seorang Punk. Saya mendengarkan beberapa kaset, meski agak aneh di telinga, saya coba ikut-ikut berteriak dan bernyanyi seperti yang dilakukan kakak saya. ( sok ngerti lah pokonya ni bocah!) kita bernyanyi ” Wi gad di amerikan cisasssss…” tanpa tau artinya.

“Nah ini musiknya anak skinhead!” sambil memutar The business.mereka terdengar sama saja seperti band-band di kaset yang lain.Namun musik yang terngiang di benak saya hanya musik-musik dari Bad Religion, ternyata enak didengar, namun tetap saja saya lebih memilih lagunya “Genit” dari Tipe-X , selain saya sering menyanyikannya bersama teman-teman di sekolah, musik ska lebih asik untuk dinikmati. Namun saya berhenti mendengarkan ska yang pada saat itu Booming gila… bukan karena banyak yang suka namun karena kakak saya mengkritik saya ” Apa SKA! Itu mah sama aja kaya dangdut kalo di Indonesia mah” mendengar kata dangdut, saya mulai mengikuti kaka saya mendengarkan punk, Bad Religion dan The Exploited yang terus saya putar. Hingga suatu saat saya diajak teman rumah yang lebih tua untuk ikut dengannya pergi ke sebuah Gor, saya melihat penampilan band lokal, saya melihat banyak sekali anak punk, terlihat seram,dengan rambut mohawk warna warni,jaket kulit, hingga akhirnya saya memutuskan untuk pulang karena terjadi sebuah pertengkaran.

“Punk not dead! Punk not dead!punk exploited! Grind is dead! Grind is dead!grind bararetet!!” teman saya bernyanyi seperti itu di jalan pulang.Memang pada saat itu terjadi perseturuan antara punk dan grindcore, entahlah kurang paham.

Saya mulai bermain musik pada saat bangku SMP, saya membentuk band dengan mengusung aliran musik punk, kami membawakan beberapa lagu Bad Religion ( American Jesus –> hanya lagu ini yang kami bawakan) karena Chords nya yang mudah,. Saya di posisi Rythem saat itu.Kemudian kami coba membawakan lagu-lagunya Greenday,nofx,mxpx,not available dan sebuah band yang membuat saya merasa menikmati masa muda, Blink 182.Selain musiknya yang fun,liriknya lumayan paham,penampilannya yang keren dan tingkah dari personelnya yang kocak. “New School Punk” begitu kakak saya menyebut mereka, yang pada saat itu kakak saya berambut gondrong,sering memakai kemeja kotak-kotak.Ternyata dia beralih jadi Grunge.

Kakak saya mulai menjelaskan aliran musik dan sub-culture.

Saya mulai memahami punk dengan paham anarchy-nya, dan apa itu skinhead sebenarnya, beserta asal mula sub-culture tersebut dan berbagai aliran musik lainnya.

Saya mulai mendengarkan berbagai macam aliran musik dan belajar bermusik.

Seiring waktu, seiring pergaulan sosial dengan teman, saya mulai paham tentang semuanya.

“Aing mah Straight Edge!” seorang teman berkata pada saya, Dia menyebut dirinya Hardcore dan mencoretkan X di tangannya. “Aing melodic pisan teu?” seorang teman yang lain berkata pada saya dengan memperlihatkan penampilannya.dan akhirnya hip metal,metal,brit pop,hingga datangnya emo,dan seterusnya.

Saya hanya mengikuti arus saja. setelah beberapa band (jadi saya dulu suka bikin band, trus bubar,bikin lagi,trus bubar) yang terakhir (yang saya tinggalkan).

Kembali ke skinhead, akhirnya saya kembali melihat penampilan kepala botak,sepatu boots,berkerah dan rapih di video klip, film-film indie luar.

Saya tertarik untuk berpenampilan seperti mereka.Namun tak pernah saya ikuti, entah mengapa. Hingga akhirnya saya bertemu dengan teman kakak saya yang berpenampilan sama persis dengan ciri-ciri anak skinhead.berkepala botak,selalu memakai boots.Dia terlihat keren.Dia sangat suka Sham 69 dan musik Ska katanya, dia menjelaskan apa skinhead.Saya mulai paham Skinhead, sub culture yang lahir bagi kelas pekerja,menengah ke bawah. Bahwa skinhead tak harus NAZI, bahkan ia suka menggambar lambang NAZI di coret..Dia memperdengarkan saya madness, dan saya mulai mengenal musik-musik Oi!,rock steady,dll

Pada saat SMA saya punya teman di tempat les, dia seorang skinhead, dia menjelaskan apa itu skinhead, dan apa perbedaannya dengan punk.Dia memeprlihatkan hasil belanjaannya di cimol, sebuah polo shirt Fred Perry, katanya dia beli murah disana.Dia bercerita bahwa dia anti kapitalis.Tidak suka pada orang orang yang bergaya hidup mewah dan blablablabla…(i’m not really care about that, but he looks so skinhead,and that’s cool).Dia masih jadi skinhead hingga kini, terakhir ketemu di sebuah pub(diskotik), dia masih botak, dan terakhir melihat dia, di suatu tempat di bandung, dia dirangkul temannya sesama skinhead, mungkin dia terlalu banyak minum, jadi saya tidak menyapanya. (hey Jo my bro! Saya udah botak! Mari kita masuk les di kelas smp!hahah)

Seorang teman meminjamkan saya sebuah buku, berjudul “SKINHEAD” dari tulisan karya seorang skinhead; George Marshall. Buku yang benar-benar memberikan saya pemahaman sepenuhnya tentang Skinhead.Dimana yang pernah saya lihat dulu, bahwa skinhead adalah NAZI,Skinhead adalah rasis,skindead berjuang demi perubahan politik dalam suatu pemerintahan,dan blablablbalbalab.s…. tak seutuhnya benar.

Yang saya pahami adalah bahwa skinhead adalah sebuah sub-culture yang lahir setelah perang dunia ke II karena pada saat itu sedang banyak terjadi krisis sosial, dari kelas menengah kebawah, lahirlah SKINHEAD, dimana mereka harus bekerja. Dan berpenampilan rapi. Maka mereka memotong rambutnya dengan rapi,hingga botak,mencukur kumis dan janggutnya agar terlihat bersih,memakai baju berkerah,memakai boots yang menandakan mereka adalah pekerja yang kuat, dan mereka menikmati hari libur kerja dengan pergi ke pub bersama teman-teman,menonton live music dari band favourit mereka, atau pergi ke stadion untuk menonton tim sepakbola kesayangan mereka.Sebuah kehidupan normal menurut saya.Saya mulai memahami bahwa adanya National Front,SHARP,dan berbagai organisasi yang melibatkan skinhead di dalamnya.Rudeboys,bootsboys,mods,skinhead, dan berbagai istilah-istilah yang erat dengan sub-culture skinhead.Reggae,Oi!,punk,ska,rocksteady,2tones,dan berbagai musik yang erat dengan skinhead beserta band-band yang mengusung aliran tersebut dan selalu ditunggu penampilannhya oleh pada skinhead di pub-pub atau bar untuk tampil menghibur mereka.

Mungkin saja media menampilkan sebuah keburukan mengenai Skinhead,mungkin saja ada Sekelompok berandal berpenampilan skinhead dan melakukan tindak kriminal sehingga media menyampaikan pada masyarakat hanya tindak keburukannya saja mengenai skinhead.”Mereka bukan skinhead! Mereka sama saja seperti Berandal yang sibuk mengisap lem!”

Setelah membaca buku tersebut, saya mulai tertarik untuk menjadi seorang skinhead namun tetap tidak saya lakukan.Namun lama setelah itu saya membeli boots dengan harga yang cukup mahal bagi saya,saya harus mengocek saku dan mengeluarkan Rp.300rb untuk sebuah Doc.Martens second yang masih terlihat baru.(Mungkin di negara asalnya Doc.Martens merupakan merek yang cukup murah untuk kelas pekerja dan terjangkau oleh para skinhead disana.)

Namun saya berfikir dua kali untuk menjadi seorang skinhead,apa pantas? Apakah saya layak? Apa saya hanya seorang poseur,( memang pada awalnya saya melihat penampilan) akhirnya saya sering mengenakan pakaian berkerah, dan berpenampilan rapi, hingga orang tua saya heran.”nah gitu, rapi!”

Teman-teman saya menyuruh saya untuk mnggunduli kepala, saya ikuti. Akhirnya saya berpenampilan seperti seorang skinhead.

Dan kini saya yakin, bahwa saya menjadi seorang skinhead.Saya tidak peduli orang menyebut saya poseur,menyebut saya korban film “this is england” karena setelah film itu saya tonton saya menggunduli kepala dan yakin saya ingin berpenampilan seperti skinhead.(saya dan teman-teman saya sering meniru karakter-karakter dalam film this is england, dan menjadi guyonan sehari hari, hahahha). Saya tidak mengalami masa kejayaan 69, karena saya lahir di tahun 1988,saya tidak selalu memakai ben sherman atau fred perry karena bila saya membeli baru harganya mungkin mahal, karena kita di Indonesia bukan di inggris,saya malas pergi ke tempat baju bekas.(ga wajib juga harus pake merek itu),mungkin saya terlambat menjadi skinhead,namun saya punya alasan mengapa? Karena baru saat ini saya mencari uang untuk bertahan hidup.Saya menjadi skinhead bukan berarti saya harus memikirkan politik yang ada di negara ini,saya bukan National Front,saya hanya menjadi skinhead,Saya masih mendengarkan musik-musik kesukaan saya, dari pop,hardcore,punk,ska,melodic,emo,shoegaze,rock,pop rock,dan bebagai aliran musik yang ada di dunia ini(whatever!)serta keroncong,hingga lagu cinta, karena saya suka dengan musik.Saya paham ini merupakan budaya luar yang hanya saya konsumsi,namun saya ingin berpenampilan seperti skinhead, saya tidak peduli pandangan orang terhadapap saya seperti apa, namun saya yakin, saya ingin berpenampilan seperti ini.Saya senang diteriaki “Hey Skinhead!” tak apa. Memang saya berpenampilan seperti skinhead.

Dan saya harus menyimpan rompi yang dipenuhi patch,stud-spike,karena saya kini lebih suka memakai kemeja atau poloshirt, coz’ everyone can change!

Saya akan selalu mmengunduli kepala saya,dan mencukur jenggot serta kumis saya,memakai boots,mengenakan pakaian berkerah serta berpikiran postive. entah hingga saat kapan saya seperti ini.Mungkin nanti ada saatnya saya harus menggantungkan sepatu boot saya.

Denpasar,

wicaksegay.

About thisnia

this is me

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: