RSS Feed

pewayangan

Posted on

Gathutkaca Jadi Raja

 

Syahdan, Pandhawa mendapatkan sebagian kecil warisan Ngastina, yakni Hutan Wanamarta yang dikenal sebagai daerah yang gawat. Siapapun yang datang ke tempat itu akan mati. Tapi Pandhawa tetap melakukan babat alas (membuka hutan). Ternyata benar, Pandhawa menghadapi tantangan yang amat berat. Tantangan itu tak lain tak bukan perihal jin sakti mandraguna yang tinggal di hutan Wanamarta. Pemimpin dari kelima jin tersebut adalah Prabu Yudhistira, mereka hendak mengganggu para Pandhawa. Tapi Pandhawa tetap bisa mengatasi masalah itu, bahkan kelima jin raksasa tersebut tunduk dan patuh pada Pandhawa, mereka menyatakan kesediaannya membantu segala kesulitan Pandhawa. Bahkan pimpinan raksasa tadi juga menganugerahkan nama Yudhistira pada Raden Puntadewa. Maka setelah itu, pembarep Pandhawa pun menggunakan nama Yudhistira.

Tantangan yang dihadapi Pandhawa belumlah usai, setelah mengalahkan jin raksasa. Kehadiran Pandhawa di Wanamarta mengundang Arimbi, seorang putri Raja Pringgadani, Prabu Kala Trembaka. Arimbi terpesona oleh kecakapan raden Bimasena. Ia benar-benar menginginkan Bima bisa menjadi suaminya. Tentu saja, Bima menolak, sebab Arimbi berwajah raseksi (raksasa perempuan) yang menakutkan. Penolakan Bima membuat Arimbi bersedih hati dan menangis tiada hentinya. Dewi Kunti Talitabrata (Ibu Pandhawa) merasa iba kemudian dia mengubah wajah raseksi Arimbi menjadi Putri yang cantik jelita. Setelah itu, hati Bima pun luluh dan akhirnya mau menikahi Arimbi yang ternyata berhati lembut.

Kelak dari perkawinan Bima dengan Dewi Arimbi, lahirlah Raden Gathutkaca yang gagah perkasa kemudian mewarisi tahta Negara Pringgadani, bergelar Prabu Anom (Raden Harya Gathutkaca). Pada waktu dilahirkan, Gathutkaca berupa bayi raksasa. Maklumlah, ibunya berbangsa raseksi. (So, Gathutkacalah satu-satunya wayang blesteran raseksi).

Bayi Gathutkaca memang sangat luar biasa. Sejak dilahirkan, ia sudah memiliki tanda-tanda kesaktian. Buktinya, pusarnya tidak dapat dipotong dengan senjata apapun. Para Pandhawa bingung bukan main. Namun, lama-kelamaan mereka menemukan brilliant idea, yaitu akan memotong pusar Gathutkaca dengan kerangka atau sarung senjata Kuntawijaya milik sang Paman yakni Arjuna. Alhasil, bayi Gathutkaca terputus dengan tali pusarnya.

Jika Raden Arjuna memiliki sarung Kuntawijaya namun senjata Kuntawijayanya sendiri milik Adipati Karna di Ngawangga pemberian Bathara Narada. Tapi sebenarnya Bathara Narada akan memberikan pada Arjuna, tetapi Bathara Narada keliru dengan memberikannya kepada Adipati Karna yang wajahnya mirip sekali dengan penengahing Pandhawa itu. Maklumlah, keduanya adalah saudara satu ibu beda ayah sehingga wajar jika wajahnya mirip. Kerangka Kuntawijayapun akhirnya berguna juga untuk memotong tali pusar Gathutkaca.

Ketika Raden Arjuna memotong pusar Gathutkaca dengan sarung kuntawijaya, tiba-tiba seperti ada gaya yang sangat kuat dari dalam tubuh Gathutkaca, sehingga sarung Kuntawijaya masuk ke dalam tubuh putra Bima. Inilah yang menjadi perantara gugurnya Gathutkaca saat perang Bharatayudha melawan Adipati Karna yakni senjata Kuntawijaya kembali ke sarangnya yang tersimpan di dalam tubuh Gathutkaca.

Keajaiban bayi Gathutkaca balum berhenti sampai di situ saja. Atas kehendak para dewa, bayi Gathutkaca di masukkan ke dalam kawah Candradimuka dan diisi dengan bermacam kesaktian oleh Empu Ramadi dan Empu Anggajali, Oleh karenanya Gathutkaca berotot kawat dan bertulang besi serta dapat terbang walaupun tanpa sayap. Ia pun bisa duduk di atas awan yang melintang layaknya orang duduk di atas kursi. (Coba sesekali liat awan di langit…. ada something disana….. Gathutkacakah? ). Kecepatan terbang Raden Gathutkaca bagaikan halilintar. (Hmmm…. Kimi Raykonen?.. lewat deh). Yah itulah sedikit imaginasi Raden Gathutkaca dalam pewayangan yang sakti mandraguna sebagai ksatria yang gagah perkasa lagi tampan berotot kawat bertulang besi.

Negara Pringgadani, awalnya dipimpin oleh Prabu Kala Trembaka yang kemudian tewas di tangan Prabu Pandhu Dewanata dari Ngastina. Karena kekuasaan di Pringgadani kosong, maka Arimba dinobatkan sebagai raja Pringgadani.

Tewasnya Prabu Kala Trembaka menyisakan suatu dendam bagi Arimba. Meski Prabu Pandhu telah meninggal dunia, Prabu Arimba ingin membunuh kaeturunan Prabu Pandhu yakni Pandhawa. Prabu Arimba mengerahkan adik-adiknya Brajadhenta, Brajamusti, Prabakesa dan Kalabendana untuk menyerang Pandhawa, namun Arimbi tidak menyetujui. (Secara, Arimbi udah terpesona saat pandangan pertama pada Raden Bratasena alias Bimasena itu…..)

Prabu Arimba tetap nekad akan menyerang Pandhawa dengan dibantu adik-adiknya. Mereka kemudian dihadapi oleh Bima dan Arimba pun tewas. Adik-adik Arimba setelah mengetahui kakaknya tewas, mereka semua tunduk pada Bima. Dan tidak lama kemudian Raden Gathutkaca akhirnya diangkat menjadi raja Pringgadani, tentunya setelah menyelesaikan masalah melalui perang tandhing dengan para pamannya dari pihak ibu yang enggan menyerahkan tahta padanya.

Walaupun sebagai raja, namun Prabu Anom Gathutkaca mendudukkan dirinya sebagai ksatria yang berlindung di bawah naungan Pandhawa. Oleh karena itu gelarnya ialah Raden Harya Gathutkaca. Jika pepundhennya Pandhawa menghadapi suatu kesulitan, maka para putra Pandhawa terutamanya Raden Gathutkacalah yang segera cancut taliwanda menghadapi musuh di barisan terdepan.

Dalam perang Bharatayudha, Gathutkaca gugur oleh senjata Kuntawijaya milik adipati Karna. Hal itu terjadi karena kehendak pamannya yakni Kalabendana yang telah dibunuh oleh Gathutkaca tanpa dosa atau salah. Suatu saat, Kalabendana menceritakan secara jujur kepada Dewi Siti Sendari bahwa Abimanyu kawin lagi dengan Dewi Utari (putri Prabu Matswapati di Negara Wiratha). Hal tersebut menyebabkan Dewi Siti Sendari sedih bercampur marah, sehingga berlari dari Negara. Ia terus mencari suaminya, Raden Abimanyu. Karena kepergian Dewi Siti Sendari tersebut, maka raden Gathutkaca menjadi marah. Karena ia mengetahui yang menyebabkan Dewi Siti Sendari pergi adalah pamannya, akhirnya Kalabendana dibunuh. Padahal, sang paman tadi sangat mencintai keponakannya.

Ketika jenazah Kalabendana akan dibawa ke Pancaka untuk disucikan, tiba-tiba jasadnya lenyap. Kemudian terdengar suara pamannya yang berpesan, bahwa ia tak mau mati (ke surga) bila tidak bersama Gathutkaca. Kalabendana pun menunggu Gathutkaca sampai kesempatan datang saat perang Bharatayudha. Ketika perang Bahratayudha, raden Gathutkaca diangkat sebagai senapati yang berhadapan dengan Adipati Karna. Ternyata keampuhan senjata Kuntawijaya milik Adipati Karna tak kuasa dilawan Gathutkaca. Pada saat itu Raden Gathutkaca segera menyadari bahwa pamannya Kalabendana yang sangat mencintainya telah menunggunya untuk diajak bersama-sama ke surga. Akhirnya gathutkaca pada kesempatan itu disambut oleh sang Kalabendana yang dulunya pernah dibunuh. Tetapi saat ajal yang menjemput, Gathutkaca masih sempat menjatuhkan tubuhnya di tengah-tengah prajurit Ngastina sehingga banyak prajurit Ngastina yang tewas akibat ulah Gathutkaca.

Raden Gathutkaca menikah dengan saudara sepupunya yang bernama Dewi Pregiwa, putri Raden Arjuna. Dari perkawinan itu, Dewi Pregiwa melahirkan anak yang bernama Raden Tetuka. Sementara adik Pregiwa yakni Pregiwati dinikahi oleh Raden Pancawala, putra Prabu Puntadewa.

Raden Harya Gathutkaca pernah menjadi raja di Kahyangan. Hal ini karena janji Dewa ketika ia berhasil mengalahkan Prabu Pracona, Raja Guwakrendha yang akan merusak Kahyangan bila pinangannya terhadap Dewi Supraba ditolak. Prabu Pracona dan patihnya yang bernama Sekipu akhirnya tewas oleh Raden harya Gathutkaca.

 

 

 

Oleh    : Kurnia Yuliatin XI A 2

About thisnia

this is me

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: